Terjun ke Masyarakat

Rutinitas Mahasiswa itu ada yang Kupu-kupu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang), Kunang-Kunang (Kuliah-Nangkring-Kuliah-Nangkring), Kura-Kura (Kuliah-Rapat-Kuliah-Rapat), atau bahkan Kuman-Kuman (Kuliah-Makan-Kuliah-Makan) (idiom klasik pemikir bangsa, 2011)

Klasik namun selalu up to date, idiom diatas menggambarkan bahwa mahasiswa di satu sisi memiliki kesibukan dalam pengoptimalan aktivitas untuk semakin produktif, sementara di sisi lainnya mahasiswa pun memiliki waktu-waktu luang yang tidak produktif.

Waktu luang yang tidak produktif terjadi ketika mahasiswa tidak memiliki kegiatan rutin dari kampus atau jadwal perkuliahan tiba-tiba kosong karena adanya pemberitahuan mendadak dari pihak dosen dan/atau perguruan tinggi. Menanggapi hal ini, terjun ke masyarakat dan bersosialisasi dengan warga tempat kost adalah sebuah alternatif untuk menjadikan waktu yang lebih produktif. Bentuk perwujudannya adalah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok masyarakat (misal: Kelompok Tani, Karang Taruna, Kelompok Ibu-Ibu PKK dan Kelompok Lingkungan).

Terjun ke masyarakat memiliki nilai tambah tersendiri. Selain sebagai bentuk pengabdian nyata mahasiswa. Bagi masyarakat, kegiatan ini akan menjadi “energi penguat” berkat sumbang saran dan gagasan yang diberikan mahasiswa. Alhasil, masyarakat akan tumbuh kembang ke arah yang lebih baik didasari dedikasi tinggi dan profesinalisme mahasiswa yang sempurna.

NB: banyak hal lho yang bisa kita dapat dari terjun ke masyarakat, selain pemikiran dan humaniora, maka kemampuan soft skill kita dalam menyampaikan gagasan akan semakin terlatih disini so! ayo rekan-rekan mahasiswa kita tunjukan pengabdian kita 🙂

kang Rahmat

<p>Start up – Entrepreneur. Moeslim, 28Yo. Indonesian.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *